REMAJA
.co
christian
online
Remaja

Hatiku Rumah Kristus

Dari Remaja

Langsung ke: navigasi, cari


Hatiku Rumah Kristus
Robert Boyd Munger
Apa yang akan kamu temukan dalam buku kecil ini?
Sebuah perjalanan singkat ke dalam hatimu bersama seorang tamu Agung!
Siapkan dirimu untuk menikmati sebuah pengalaman yang akan mengubah hidupmu

selamanya!


Pada suatu senja, kuundang Yesus masuk dalam hatiku. Betapa indahnya saat itu! Bukan suatu pengalaman emosi yang gegap gempita, namun suatu pengalaman yang nyata. Sesuatu terjadi dalam hidupku. Dia memasuki kegelapan hatiku dan mengubahnya menjadi terang. Dia menghangatkan hatiku dan mengenyahkan kedinginannya. Dia menyenandungkan musik, menggantikan hati yang sepi dan resah.
1.jpg
Kekosongan hatiku diganti dengan persahabatan yang ajaib dan penuh kasih kepada-Nya. Keputusan untuk membuka hatiku bagi Kristus, tidak pernah kusesali, sampai kapan pun – bahkan sampai kekekalan nanti!

Dalam kegiranganku atas hubungan baru ini, aku berkata kepada Yesus Kristus,
"Yesus, aku ingin agar hatiku ini menjadi milik-Mu sepenuhnya. Aku ingin Kau tinggal di sini dan betah di dalamnya. Segala yang kumiliki, menjadi milik-Mu. Mari kutunjukkan semuanya kepada-Mu."

Tempat Belajar

Ruang pertama yang kutunjukkan ialah tempat belajarku. Di rumahku, tempat tersebut hanya sebuah meja belajar sederhana, penuh sesak dengan berbagai hal, namun sangat penting artinya. Di sinilah tempat pusat pengendalian segenap isi rumahku. Dia mendekat dan
Lemari.jpg
menyelidik ke buku-buku yang ada di rak buku, juga majalah-majalah di meja, dan gambar-gambar di dinding. Aku mengikuti tatapan mata-Nya, aku mulai merasa gelisah.

Anehnya, sebelum ini aku tidak pernah merasa seperti ini. Tetapi sekarang, ketika Dia menatap semua benda-benda ini, aku merasa malu. Mata- Nya terlalu kudus untuk melihat beberapa buku yang tergeletak di sana. Banyak bahan bacaan lainnya yang tidak pantas dibaca oleh seorang Kristen, sementara gambar-gambar yang terpajang di dinding membangkitkan lamunan dan pikiran yang memalukan.

Aku berbalik kepada-Nya dan berkata, "Tuhan, aku tahu bahwa tempat ini perlu dirombak besar- besaran. Maukah Engkau membantuku memilih hal-hal yang lebih baik dan menaklukkan segenap pikiranku kepada-Mu?" "Tentu," jawab Yesus.

"Pertama, ambil semua hal yang biasa kau baca, namun yang tidak berguna, tidak kudus, tidak baik, dan tidak benar. Buanglah semuanya
Alkitab2.jpg
itu. Kini, isilah rak itu dengan buku-buku yang menyegarkan ingatanmu kepada-Ku. Penuhi tempat belajarmu dengan hal-hal yang sesuai dengan ajaran iman Kristen. Taruhlah Alkitab sebagai pusat dan renungkanlah itu siang dan malam (Yosua 1:8 ).”

“Sedangkan tentang gambar-gambar di dinding itu, memang agak sukar mengendalikannya, tetapi ada sesuatu yang bisa menolongmu.” Dia memberiku gambar diri-Nya, "Pasanglah ini di tengah-tengah, di pusat pikiranmu," saran-Nya.

Kulakukan semua itu, dan pada waktu-waktu berikutnya aku alami bahwa bila perhatianku berpusat pada Kristus sendiri, kekudusan dan kuasa-Nya membuat khayalan-khayalan kotor di pikiranku terpukul mundur. Demikianlah Dia membantuku menaklukkan segenap pikiranku untuk hal-hal yang berkenan kepada-Nya.

Tempat Makan

Dari tempat belajar, kami beralih ke tempat makan, tempat di mana selera dan keinginan-keinginanku berada. Aku banyak meluangkan waktuku di tempat ini untuk memuaskan keinginan- keinginanku.
Burger.jpg
Kukatakan kepada-Nya, “Ruang ini besar dan aku yakin Engkau akan senang dengan apa yang tersedia di sini." Dia duduk di dekatku, di pinggir meja makan dan bertanya, "Apa daftar makanan yang ada di sini?"

"Uang, pakaian, kepopuleran, pesta, komputer, games, dan HP sebagai pencuci mulut," jawabku bangga. “Inilah makanan kesukaanku." Ketika makanan tersebut kuhidangkan di hadapan- Nya, Dia tidak berkata apa-apa. Namun aku lihat Dia tidak menyantapnya. Lalu kataku kepada-Nya, "Tuhan, Engkau tidak suka makanan ini? Mengapa tidak Kausentuh?" Dia menjawab, "Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal ... Jika kau ingin makanan yang benar-benar memberikan kepuasan, cari dan lakukanlah kehendak Bapa di surga. Maukah kau memikirkan bukan apa yang memuaskanmu tetapi apa yang menyukakan-Ku?” Di meja makan itulah Dia membuatku mencicipi makanan kesukaan-Nya. Betapa nikmatnya. Betapa segar, kenyang, dan kuat jiwaku dibuatnya. Tidak ada makanan lain seperti ini di seluruh dunia. Makanan ini sungguh memberiku kepuasan.

Tempat Duduk dan Merenung

Dari tempat makan, kami berjalan ke tempat duduk. Suasana tempat ini terasa akrab dan
Kursi.jpg
menyenangkan. Aku menyukainya. Ada sofa duduk yang nyaman, ada jendela yang mengalirkan udara yang segar dan bersih, dan suasana tenang yang mewarnainya. "Benar-benar menyenangkan tempat ini," ujar-Nya. "Mari kita sering-sering datang ke sini. Kita bisa bersekutu bersama di sini."

Nah, tentu saja sebagai seorang Kristen muda aku bergairah dengan ide itu. Aku rindu meluangkan waktu beberapa menit untuk bersekutu akrab dengan Kristus.
Dia pun berjanji, "Aku akan berada di sini tiap pagi. Temui aku di sini dan kita akan memulai tiap hari bersama-sama."

Demikianlah, pagi demi pagi, aku menemui-Nya di ruang tempat duduk itu – yang aku lebih senang
2.jpg
menyebutnya tempat "pengasingan diri". Dia memilih salah satu kitab dalam Alkitab, dan kami membacanya bersama. Dia membeberkan kekayaan isi kitab tersebut dan mengungkapkan kepadaku kebenaran-kebenaran yang luar biasa. Hatiku terasa hangat ketika Dia menyatakan kasih dan karunia-Nya terhadapku. Alangkah indahnya saat-saat seperti ini.

Tapi, lambat laun, karena banyaknya kegiatan yang harus kulakukan, waktu bertemu dengan-Nya jadi makin singkat. Mengapa?
Aku tidak tahu.
Yang jelas, aku menjadi terlalu sibuk untuk meluangkan waktu dengan Kristus. Ini tidak disengaja tentunya, tetapi terjadi dengan sendirinya. Akhirnya, bukan saja waktu tersebut memendek, tetapi kadang-kadang aku bahkan kehilangan kesempatan itu sama sekali. Mungkin karena banyak urusan-urusan mendadak, sehingga 1–2 hari kesempatan bersekutu secara pribadi dengan Yesus aku hilangkan.

Kuingat, suatu pagi ketika aku sedang bergegas untuk aktivitasku hari itu, kulalui ruang pertemuan kami dan kulihat pintunya terbuka. Kujenguk ke dalam dan di sana Yesus sedang duduk sendiri.

Aku kecewa dengan diriku sendiri. Dia tamuku. Aku telah mengundang-Nya
3.jpg
masuk dalam hatiku. Dia telah masuk, namun aku telah melupakan-Nya.

Sambil tertunduk malu aku berkata,
"Yesus yang baik, maafkanlah aku. Apakah Engkau selalu ada di sini menungguku tiap pagi?"
"Ya,"jawab Yesus.
"Sudah Kukatakan kepadamu, Aku akan di sini setiap pagi untuk berjumpa denganmu. Ingat, Aku mengasihimu. Aku telah menebusmu dengan harga yang mahal. Aku merindukan persekutuan denganmu. Kalaupun kau tidak sanggup melakukan untuk kepentinganmu sendiri, lakukanlah itu untuk-Ku."

Kenyataan bahwa Kristus menginginkan persekutu- an denganku, bahwa Dia menginginkan aku bersama-Nya, bahwa Dia menantikanku, telah banyak mengubah cara pandangku, jauh melebihi faktor-faktor pertimbangan lainnya. Aku tidak akan lagi membiarkan Yesus duduk sendiri menantikanku. Aku akan mencari waktu setiap hari, membaca Alkitab, berdoa, dan bersekutu dengan-Nya.

Tempat Berkarya

Tidak lama kemudian Yesus bertanya kepadaku, "Apakah kamu punya tempat untuk berkarya?" Di pojok belakang rumah hatiku ada sebuah ruang kecil dengan seperangkat alat ala kadarnya yang jarang kugunakan. Kadang-kadang, aku memakai beberapa peralatan sederhana itu, tapi tidak pernah menghasilkan apa pun yang berarti. Aku sering dihinggapi perasaan tidak mampu.

Kuajak Yesus ke ruang kecil itu. Dia melihat peralatanku dan berkata, "Wah, sebenarnya cukup perlengkapan yang kau miliki. Apakah kau mau melakukan sesuatu untuk Kerajaan Allah?" Dia melihat beberapa mainan yang pernah kubuat. Dia mengambilnya, sambil bertanya, "Hanya mainan- mainan kecil ini sajakah yang pernah kau buat?"

"Ya," sahutku. "Yesus, aku tahu ini tidak berarti. Sebenarnya aku ingin berbuat lebih banyak, tetapi aku tidak punya cukup kekuatan atau kemampuan untuk berbuat lebih."
4.jpg

"Inginkah kau melakukan sesuatu yang lebih baik?" tanyanya.
"Tentu," jawabku.
"Baiklah. Berikan tanganmu kepada-Ku. Sekarang, tenangkanlah dirimu dalam-Ku dan biarkan Roh-Ku bekerja melaluimu. Aku tahu kau lemah dan kurang mampu, tetapi Roh Kudus adalah Pekerja Ajaib. Jika Ia mengendalikan tangan- tangan dan hatimu, Dia akan bekerja melaluimu." Sambil melangkah berputar ke belakangku dan tangan-Nya yang kuat menyanggah tangan- tanganku, aku memegang alat-alat tersebut dan mulailah kami bekerja bersama. Makin aku tenang dan mempercayai Dia,
makin Dia bekerja melalui hidupku.

Tempat Bermain

Yesus juga bertanya, apakah aku memiliki tempat untuk bermain. Sebenarnya, aku berharap Dia tidak menanyakan hal itu. Ada berbagai persahabatan, kegiatan, dan kesenangan tertentu yang ingin kusimpan untuk diriku sendiri. Suatu petang, ketika aku ingin pergi bersama teman-teman sekolahku, Dia menghentikanku dengan tatapan-Nya dan bertanya,
Main.jpg

"Apakah engkau ingin keluar sore ini?"

"Ya," jawabku.
"Bagus," kata-Nya, "Aku ingin ikut bersamamu."
"Oh," jawabku agak ragu, "Tuhan Yesus, aku yakin Kau tidak sungguh-sungguh ingin pergi denganku. Bagaimana kalau besok saja? Besok kita akan ke persekutuan doa, tapi hari ini aku punya janji lain." "Maaf," kata-Nya lagi.
"Kukira ketika kau mengundang-Ku masuk ke dalam rumahmu, kita akan melakukan segala sesuatu bersama-sama, sebagai sahabat. Ketahuilah, Aku senang pergi denganmu."
"Ya, besok sajalah kita pergi bersama," jawabku bergumam sambil keluar menutup pintu.

Malam itu adalah malam yang paling sengsara bagiku. Aku merasa diri tidak layak. Sahabat macam apa aku ini terhadap Yesus, sampai-sampai aku tega melewati acara dengan teman- temanku tanpa Dia.
5.jpg
Tapi masalahnya aku melakukan hal-hal dan pergi ke tempat-tempat yang aku tahu benar Dia tidak akan menyukainya.

Waktu aku pulang ke rumah malam itu, aku melihat cahaya lampu di ruang tamu. Aku pun masuk dan bertemu dengan-Nya.
Aku berkata, "Tuhan, kini aku sadar. Aku tidak dapat memiliki waktu yang indah dan berarti tanpa Engkau. Kita akan mengerjakan segala sesuatu bersama-sama.”

Lalu kami memasuki "tempat bermain" yang kotor dan tidak teratur itu dan Dia mengubahnya. Dia memperkenalkanku dengan sahabat-sahabat baru dalam hidupku, kepuasan-kepuasan dan kesukaan- kesukaan baru aku dapatkan. Sejak itu, gelak tawa dan senandung terus hadir di rumahku.

Tempat Gudang

Suatu hari kujumpai Dia menungguku di ambang pintu. Pandangan mata-Nya tajam menyelidik. Ketika aku masuk, Dia bertanya kepadaku, "Ada bau tidak enak di rumah ini, seperti bau bangkai. Aku yakin bau itu keluar dari lemari itu."
Begitu aku mengikuti arah yang Dia tunjuk, aku segera tahu apa yang dimaksudkan-Nya.
Lemari2.jpg

Ya, ada sebuah lemari kecil di pojok ruangan – kecil dan tidak berarti. Di dalam lemari itu, ada satu-dua barang pribadi yang Yesus tidak boleh tahu. Memang barang-barang tersebut busuk dan buruk, tetapi aku masih sangat menyukainya. Ini membuatku takut untuk mengakui bahwa barang- barang tersebut ada di sana.

Aku melangkah ke arah lemari itu bersama Yesus. Tapi semakin mendekat, bau busuk tersebut terasa semakin kuat juga. Dia hendak menyentuh pintu lemari. Aku marah. Hanya itu yang dapat kulakukan. Aku telah memberi Dia izin mencampuri tempat belajar, tempat makan, tempat duduk, tempat berkarya, dan tempat bermainku, dan kini Dia ingin tahu soal lemari kecil itu. Dalam hati aku berkata, "Keterlaluan. Aku tidak akan menyerah- kan lemari kecil yang bau itu kepada-Nya."

Membaca pikiranku, Yesus berkata, "Jika kau pikir Aku mau tinggal di rumahmu dengan bau sebusuk ini, kau salah besar. Aku duduk di serambi saja!" Aku lihat Dia mulai melangkah menjauhi lemari itu. Pertahananku runtuh. Aku sudah mulai mengenal dan mengasihi Yesus, dan aku akan mengalami hal yang terburuk, yaitu kehilangan hadirat-Nya. Aku harus menyerah. "Aku akan menyerahkan kuncinya pada-Mu," ujarku sedih. "Tetapi Engkau harus mendampingiku untuk membuka lemari itu dan membersihkannya. Aku tidak punya cukup kekuatan untuk melakukannya sendiri."
"Serahkan saja kuncinya pada-Ku," jawab-Nya. "Berikan pada-Ku hak untuk mengatur lemari itu."

Ambil Alih Seluruh Kendali

Dengan jari-jari yang gemetar, kuserahkan kunci itu kepada-Nya. Dia mengambilnya dan berjalan ke pintu, membukanya, dan membantuku mengambil keluar semua barang-barang yang sedang melapuk dan membusuk, dan satu per satu kulemparkan mereka ke luar. Kemudian, bersama-Nya kubersihkan lemari itu dan mengecatnya ulang. Dalam sekejap waktu saja, semuanya sudah selesai.
6.jpg
Oh, betapa dalamnya kemenangan dan kelepasan yang kualami, sesudah "bangkai" busuk itu keluar dari hidupku!

Selintas terpikir olehku, mungkinkah Yesus bersedia mengambil alih seluruh pengelolaan isi rumahku, seperti yang sudah Dia lakukan dengan lemari tadi? Maka dengan berani aku bertanya, “Yesus, maukah Engkau mengambil alih hidupku dan menjaga-Nya supaya bersih sesuai dengan yang Kauinginkan?"

Wajah Yesus berseri-seri ketika Dia menjawab, "Tentu saja. Itulah yang selama ini ingin Kukatakan kepadamu. Kau akan mampu menjadi orang Kristen yang berkemenangan dengan kekuatan yang dari pada-Ku. Izinkan Aku melakukannya melaluimu. Itulah rahasianya. Tetapi…," lanjutnya perlahan,
"Aku di sini hanya seorang tamu. Aku tidak memiliki hak untuk mengendalikan rumahmu, sebab engkaulah pemilik rumah ini, bukan Aku."

Sambil tersungkur dan bertelut, aku berkata, "Yesus, selama ini Kau kuperlakukan hanya sebagai tamu dan aku bertindak sebagai tuan rumah. Mulai saat ini dan seterusnya, aku ingin menjadi pelayan- Mu, karena Engkaulah yang sebenarnya menjadi Tuan di rumahku." Dengan sekuat tenagaku, aku berlari menuju kotak yang menyimpan daftar hal berharga yang kumiliki. Kutunjukkan semua surat kepemilikan rumahku. Lalu dengan penuh kesung- guhan kutandatangani bukti penyerahan rumah dan isinya kepada Yesus untuk sekarang dan selama- lamanya. "Ini," kataku. "Inilah semua yang kupunya dan seluruh keberadaanku, keserahkan selama- lamanya kepada-Mu. Sekarang tinggallah di rumahku dan aturlah semau-Mu. Aku akan setia kepada-Mu sebagai hamba dan sahabat."

Segalanya berubah dan berbeda sejak Yesus Kristus menetap dan mendiami sepenuhnya rumah hatiku.